Update Data Distribusi secara Instan

data-distributor

Table of Contents

Update Data Distribusi secara Instan

Proses distribusi adalah menyalurkan produk dari produsen ke pasar. Barang diproduksi dan dikemas oleh produsen, kemudian dijual ke konsumen akhir melalui distributor, toko grosir, supermarket, hingga toko ritel. Contohnya, jika stok habis, pemilik toko akan melakukan order ke distributor area setempat. Setelah itu, jika barang habis di gudang, distributor akan order ke produsen. 

Pengolahan data secara manual 

Banyak distributor dan produsen/prinsipal masih mengandalkan sistem manual. Hampir semua data masih dicatat paper-based, paling cepat di upload ke sistem seminggu sekali, dan kadang tidak terdata dengan rapi. 

Maka dari itu, alur rantai pasokan menjadi lama dan riskan terhadap overstocking dan understocking. Hal ini sangat berdampak buruk apalagi ketika pandemi di mana pola permintaan konsumen berubah dengan cepat. 

Selain itu, dalam masa pandemi, banyak informasi yang cepat berganti. Mulai penutupan jalan dan tempat umum selama PSBB, serta jam operasional toko yang tidak menentu. Jika distributor masih menggunakan sistem manual, ditambah dengan situasi pandemi, proses distribusi akan semakin terhambat.

Konsekuensi jika masih menggunakan sistem manual di masa pandemi 

  1. Distribusi barang yang tidak lancar

Sistem manual tidak bisa menangkap data secara real-time. Maka dari itu, perusahaan tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumen di pasar dengan tepat. Distribusi barang bisa tidak sesuai dengan permintaan setiap daerah, ada area yang kelebihan sedangkan area lain kekurangan. Bisa juga terjadi overstock atau understock di gudang karena flow distribusi mampet. 

Hal kedua tersebut bisa mengakibatkan kekurangan barang di toko-toko. Jika hal itu terjadi, banyak pemilik toko yang mungkin menaikkan harga barang. Harga barang yang tinggi inilah yang bisa merusak branding produk karena konsumen mungkin akan berpaling ke produk lain. 

Jika distributor kewalahan, yang paling berdampak buruk adalah toko-toko kelontong di area rumah warga. Sedangkan toko-toko tersebut adalah pilihan utama konsumen karena toko lebih dekat ke pemukiman mereka. 

shelf-empty
  1. Sulit memonitor karyawan lapangan

Di sisi lain, dengan adanya PSBB, banyak jalanan yang ditutup dan toko-toko dengan jam operasional yang berbeda. Situasi ini akan berdampak besar bagi karyawan lapangan (salesman, canvasser, kurir). Tidak hanya akan memperlambat alur distribusi, sistem manual juga akan mempersulit supervisor untuk memverifikasi kendala-kendala tersebut. Jika mereka sulit untuk memverifikasi, supervisor akan telat dalam menanganinya. 

illustration-dashboard

Menggunakan Teknologi Cloud Untuk Menangani Data

Advotics Distribution Management System (DMS) mempercepat penyebaran informasi di supply chain network. Proses distribusi kini semua tercatat dan terintegrasi di sistem cloud dalam real-time. Mulai dari pemesanan sales order, level stok barang di semua gudang, pembuatan faktur, catatan pengiriman, tracking barang dan kurir serta manajemen logistik secara keseluruhan terhubung dalam satu sistem.

Kini, barang yang dapat didistribusi sesuai dengan permintaan pasar. Prinsipal tidak lagi kewalahan dalam perencanaan produksi dan distributor tidak lagi sulit dalam menangani alur barang yang mampet. Supervisor juga kini bisa dengan cepat menangani situasi yang tidak menentu karena semua informasi di-update secara real-time

Share :