Digitalisasi Supply Chain di Industri Pelumas dan Automotive Supplies

Digitalisasi-Supply-Chain-Industri-Lubricants

Digitalisasi Supply Chain di Industri Pelumas dan Automotive Supplies

Pelumas dan seluruh industri migas secara umum berada di peringkat tengah dalam tingkat digitalisasi menurut Industry Digitalization Index. Namun, transformasi digital ini kebanyakan hanya untuk tenaga kerja dan manufaktur. Untuk urusan digitalisasi distribusi dan logistik, industri pelumas masih tertinggal. 

Digitalisasi di distribusi dan logistik sebenarnya sangat penting dalam merampingkan proses penyaluran produk ke pasaran dan meminimalisasi resiko barang palsu. 

Pain Points Industri Pelumas dan Automotive Supplies

Membangun kepercayaan terhadap suatu merk di pasaran Indonesia tidaklah mudah. Oleh karena itu, ketika suatu produk dipalsukan, taruhan proses bisnis nya tinggi. Hal ini tidak hanya merusak image perusahaan tetapi juga profitabilitasnya. 

Di samping itu, dengan rantai supply chain industri bahan otomotif yang panjang, juga terdapat  beberapa masalah lain yang sering dihadapi industri: 

  • Kurangnya transparansi data
  • Data permintaan pasar dan informasi produk yang terbatas
  • Perpindahan informasi yang lambat dari berbagai lapisan rantai pasokan
  • Biaya operasional yang kurang optimal

4 Poin Penting Mengapa Industri Pelumas Harus Memulai Digitalisasi 

1. Transparansi distribusi produk dengan track and trace

Pain points:

Dengan sistem manual, perusahaan sulit mengetahui di mana produk berada, di gudang yang mana atau di lokasi proyek mana, karena tidak ada integrasi sistem dengan pihak gudang distributor dan retailer. Data ini penting untuk diketahui untuk mendapatkan level inventory yang akurat untuk mengantisipasi permintaan pasar, optimasi inventory costs, dan mengetahui time to market. Terutama untuk industri pelumas di Indonesia, digitalisasi identitas produk sangatlah penting karena pelumas rentan terhadap pemalsuan produk. 

Solusi:

Penerapan teknologi Quick Response (QR) Codes pada kemasan setiap botol pelumas sebagai identitas digital yang unik. Setelah itu QR codes di-scan, sistem akan memulai pelacakan perpindahan produk (track and trace) mulai dari dalam gudang Principal, truk, gudang distributor, kurir salesman hingga ke toko-toko. QR code dapat langsung ditempatkan pada kemasan botol pelumas atau box/pallet. Produk yang palsu bisa dideteksi jika ternyata ada QR code yang tidak terdaftar atau terduplikasi beredar di pasaran.

Baca lebih lanjut : Sistem Manajemen Gudang Revolusioner: Cara Baru Mengidentifikasi Produk

Manfaat: 

Identitas unik di setiap botol pelumas membantu Principal dalam mencegah pemalsuan dan cross-border transaction. Lalu selain monitoring produk dalam real-time, teknologi track and trace juga meng-optimasi perencanaan produksi karena pencatatan stok barang di gudang, sell-in, dan sell-out dilakukan secara otomatis dan real-time.

Advotics-QR-Codes

2. Mempererat relasi dengan Product Advocate

Pain points:

Lain dari produk lainnya di pasar, spesifikasi produk automotive supply lebih kompleks, terutama untuk pembeli yang awam. Maka dari itu, pembelian produk seperti pelumas dan ban membutuhkan penjelasan produk lebih lanjut dari seseorang yang terpercaya untuk mendorong konsumen dalam membeli produk tersebut, contohnya montir di bengkel. 

Kebanyakan dari mereka bergerak secara individu, maka perusahaan principal sering kali sulit untuk melacak angka penjualan dan performa kinerja mereka. 

Selama ini, untuk mempererat relasi dengan montir, perusahaan membuat loyalty program khusus untuk memberikan insentif agar montir lebih semangat dalam menjual produk. Namun karena proses masih manual, principal kadang sulit mengontrol distribusi hadiah, sedangkan montir juga sulit dalam memantau data poin yang telah mereka kumpulkan. 

Solusi:

Perusahaan dapat mulai menggunakan aplikasi digital berbasis mobile untuk program loyalty. Montir dapat scan QR code produk di setiap pembelian di aplikasi loyalty program untuk  mendapatkan insentif.

Manfaat: 

Montir dapat menukarkan poin loyalitas mereka dengan voucher elektronik, voucher seluler prabayar, langsung dari aplikasi mereka sendiri. Sedangkan perusahaan bisa dengan mudahnya mengelola, mengendalikan, dan memantau berbagai promosi campaign di loyalty program dalam waktu bersamaan.

Baca lebih lanjut: Loyalty Program Untuk Product Advocate

Loyalty-Program-Campaign

3.Menghemat budget dengan mengoptimasi biaya operasional 

Pain points:

Biaya operasional yang tinggi sering disebabkan oleh penggunaan sumber daya yang kurang maksimal dan rute pengantaran barang yang kurang optimal. Contohnya, tipe kendaraan berat seperti forklift, truk, dsb, adalah penyumbang terbesar dari biaya operasional yang tinggi. Namun, banyak perusahaan seringkali kurang mengetahui seberapa besar durasi penggunaan kendaraan tersebut di lapangan. Sudahkah maksimal? apa ternyata banyak yang menganggur di gudang? 

Solusi:

Setiap kendaraan diimplementasi dengan tracker GPS yang terintegrasi dengan software akan mengumpulkan status, lokasi dari waktu ke waktu, dan durasi penggunaan. 

Sistem Delivery Planning System dapat secara otomatis menghasilkan rute yang paling direkomendasikan, sesuai dengan parameter yang dipilih seperti jam kunjungan dinamis, total jam kerja dan spesifikasi pengemudi, prioritas pelanggan. 

Jika kendaraan membawa produk, sistem juga dapat memfasilitasi parameter seperti jenis produk yang diangkut, jenis, kapasitas dan spesifikasi kendaraan, pemenuhan pesanan di delivery window yang tepat (tanggal dan jam pengiriman). Semua informasi terintegrasi secara real-time memungkinkan perubahan jadwal yang last-minute.     

Manfaat: 

Setiap laporan penggunaan kendaraan akan membantu manajemen dalam alokasi dan utilisasi. Produktivitas yang maksimal dapat mengurangi biaya operasional, sistem Vehicle Management Advotics telah terbukti dapat mengurangi biaya operasional vehicle hingga 14%. 

Baca lebih lanjut: 

4. Strategi ekspansi market

Pain points:

Sebelum menembus pasar baru, perusahaan harus melakukan analisis pasar untuk memvalidasi permintaan konsumen di area tersebut. Namun, sebagian besar brand gagal melakukan analisis pasar karena mereka tidak menggunakan teknologi yang tepat untuk melakukannya secara efektif. Tanpa data dan angka yang akurat, perusahaan hanya dapat melihat apa yang kompetitor lakukan di pasar, bukan produk apa saja yang terjual dan produk apa saja yang sebenarnya dibeli konsumen.

Solusi:

Data yang dikumpulkan dari implementasi QR code track and trace dan loyalty program untuk montir dapat diakses dan dianalisa di fitur Product Insights Analysis. Perusahaan dapat memvisualisasikan data dari masing-masing SKU dan analisis lebih mendalam untuk setiap performa produk dengan grafik yang objektif dan akurat karena sistem melacak dan mensinkronisasi semua data dari berbagai sumber data secara real-time.

Manfaat: 

Menganalisis produk terlaris dan harga produk pesaing dapat membantu perusahaan menemukan celah pasar (market gap) kebutuhan pelanggan yang belum ditangani pesaing di area baru.  

Baca lebih lanjut: Apa itu Analisis Product Insights? Pentingnya untuk Principal dan Distributor?

Advotics-Product-Insights-Dashboard
Share :