Langsung ke konten

Whitepaper

Tantangan Logistik dalam Industri Farmasi & Industri Makanan-Minuman

Whitepaper Advotics: 3 tantangan logistik terbesar industri farmasi dan makanan-minuman — penyimpangan penjualan obat, produk palsu, dan kecepatan distribusi produk segar.

Terbit:
PDF
25 halaman
Bahasa dokumen:
Indonesia
Penerbit:
Advotics

Unduh PDF

Unduhan PDF segera tersedia di halaman ini.

Sampul whitepaper Advotics Tantangan Logistik dalam Industri Farmasi dan Industri Makanan-Minuman

Ringkasan

Tantangan Logistik dalam Industri Farmasi & Industri Makanan-Minuman adalah whitepaper Advotics tentang tiga tantangan distribusi terbesar di dua industri yang tetap tumbuh saat pandemi: penyimpangan penjualan (termasuk obat yang dijual pihak tanpa kewenangan dan penjualan lintas kanal), peredaran produk palsu, serta kecepatan dan kualitas distribusi produk segar. Kuncinya adalah visibilitas: kode unik per produk untuk track & trace, gudang yang terkelola digital, dan rute pengiriman yang dioptimasi.

  • Obat palsu diperkirakan mencapai hingga 25% dari total peredaran obat di Indonesia (Kemenperin, 2021).
  • Sekitar 33% makanan terbuang selama distribusi, dan produk segar menghabiskan kira-kira setengah umur simpannya di perjalanan.
  • Kode unik (QR code, RFID, barcode) memungkinkan verifikasi keaslian dan track & trace di seluruh jalur distribusi.
  • Untuk produk segar, kuncinya WMS yang akurat dan rute pengiriman otomatis sesuai kapasitas kendaraan.

Angka kunci dari whitepaper ini

perusahaan farmasi di Indonesia, 63,3% di antaranya Pedagang Besar Farmasi (PBF)
4.224
Sumber: BPOM
apotek di seluruh Indonesia
30.000+
Sumber: BPOM
porsi obat palsu dari total peredaran obat di Indonesia
hingga 25%
Sumber: Kemenperin, 2021
temuan pelanggaran patroli siber obat & makanan 2020; ~90% obat keras dijual tanpa kewenangan
48.749
Sumber: BPOM, 2020
makanan terbuang selama proses distribusi
33%
Sumber: Logistics Bureau
biaya transportasi pelaku usaha makanan segar terhadap harga pokok penjualan
>26%
Sumber: Cornell University

Isi whitepaper

  1. Peluang di tengah pandemi

    Industri farmasi dan makanan-minuman termasuk sedikit industri yang tetap tumbuh pada 2020, ketika PDB Indonesia turun 2,07%. Pada 2020–2021, farmasi menjadi penyumbang PDB non-migas terbesar kedua setelah makanan-minuman. Pertumbuhan ini datang bersama tantangan distribusi yang khas.

  2. Rantai distribusi industri farmasi

    Obat resep (ethical, ±62% penjualan obat) mengalir dari prinsipal ke distributor, lalu rumah sakit dan apotek; obat bebas/OTC (±38%) ke toko modern, toko obat, apotek, dan klinik (GlobalData 2015). Produk kesehatan hewan punya jalur tersendiri ke klinik dan rumah sakit hewan. PBF diatur Permenkes No. 1148/2011.

  3. Rantai distribusi makanan-minuman dan produk segar

    Industri makanan-minuman melibatkan 7.000+ perusahaan menengah-besar dan 1,6 juta+ usaha mikro-kecil (BPS). Produk segar dan beku membutuhkan sistem rantai dingin, serta perhatian pada suhu, kelembaban, pengepakan, dan penyusunan barang agar tidak rusak di perjalanan.

  4. Standar yang wajib dipenuhi: GWP, CDOB, dan CPPOB

    Good Warehouse Practices mengatur gudang yang menjaga mutu produk. Industri farmasi menerapkan Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB/GDP), termasuk penyimpanan khusus prekursor farmasi. Industri pangan olahan menerapkan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB/GMP) untuk mencegah kontaminasi.

  5. Tantangan farmasi: penyimpangan penjualan, obat palsu, dan lintas kanal

    Pelanggaran didominasi obat yang dijual di sarana tanpa keahlian dan kewenangan serta obat tanpa izin edar. Menurut WHO, sekitar 96% situs penjualan obat online di dunia tergolong ilegal. Solusinya: kode unik per produk, verifikasi keaslian, pencatatan seluruh proses distribusi dalam satu sistem, dan track & trace untuk mendeteksi barang palsu sedini mungkin.

  6. Tantangan makanan-minuman segar: kecepatan, kualitas, dan biaya

    Sayur dan buah segar rata-rata bertahan 3–7 hari, olahan susu 5–7 hari, dan daging 3–5 hari pada suhu 4,4 °C (FDA). Kerugian distribusi produk segar bisa mencapai 30–40% dari produksi (FAO). Solusinya: WMS untuk akurasi dan kecepatan pemindahan barang, strategi picking (zone, pick to order, wave), serta rute pengiriman otomatis sesuai kapasitas dan spesifikasi kendaraan.

Pertanyaan seputar whitepaper ini

Apa tantangan logistik terbesar di industri farmasi Indonesia?

Menurut whitepaper Advotics, tiga tantangan terbesar distribusi farmasi adalah penyimpangan penjualan obat ke pihak yang tidak berwenang, peredaran obat palsu, dan penjualan lintas kanal (cross channel sales). Ketiganya berakar pada kurangnya visibilitas selama proses distribusi.

Bagaimana cara mencegah obat dan produk palsu dalam rantai distribusi?

Dengan memberi setiap produk kode pengenal unik (QR code, RFID, atau barcode), memverifikasi keaslian lewat pemindaian, mencatat seluruh perjalanan produk dalam satu sistem, dan melakukan track & trace sehingga barang palsu terdeteksi sebelum sampai ke konsumen.

Apa itu CDOB dan CPPOB?

CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik, atau Good Distribution Practices) adalah sistem jaminan mutu untuk pengadaan, penyimpanan, dan pengiriman obat. CPPOB (Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik, atau Good Manufacturing Practices) adalah pedoman untuk mencegah pencemaran pangan olahan secara biologi, kimia, dan fisik.

Mengapa distribusi makanan segar sulit?

Karena umur simpannya pendek — sayur dan buah segar rata-rata 3–7 hari — sementara produk segar menghabiskan kira-kira setengah umur simpannya dalam pengiriman. Sekitar 33% makanan terbuang selama distribusi, dan biaya transportasinya bisa melebihi 26% dari harga pokok penjualan.

Whitepaper ini dalam bahasa apa?

Dokumen PDF-nya berbahasa Indonesia (25 halaman). Ringkasan lengkapnya tersedia di halaman ini dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Ingin tahu bagaimana tantangan ini diatasi di bisnis Anda?

Diskusikan dengan tim Advotics dan lihat demo platform yang dipakai lebih dari 70 perusahaan di Indonesia.