Langsung ke konten

Whitepaper

Mengembangkan Usaha Distribusi di Indonesia

Whitepaper Advotics tentang 5 proses inti distributor — sales order, inventory, pengiriman, penagihan, akuntansi — masalah bila manual dan manfaat digitalisasinya.

Terbit:
PDF
16 halaman
Bahasa dokumen:
Indonesia
Penerbit:
Advotics

Unduh PDF

Unduhan PDF segera tersedia di halaman ini.

Sampul whitepaper Advotics Mengembangkan Usaha Distribusi di Indonesia

Ringkasan

Mengembangkan Usaha Distribusi di Indonesia adalah whitepaper Advotics untuk distributor yang ingin menilai apakah proses bisnisnya sudah cukup modern. Isinya membedah lima proses inti — sales order, inventory, pengiriman, penagihan, dan akuntansi — beserta masalah yang muncul bila dikerjakan manual dan manfaat digitalisasinya. Contohnya, beralih dari kertas ke sistem terintegrasi rata-rata meningkatkan produktivitas 25%, penggunaan ruang gudang 10–20%, dan efisiensi stok 15–30%.

  • Distributor skala regional di Indonesia mengelola 1.000–15.000 toko, dengan pesanan kecil (mulai Rp1,3 juta) dua kali sebulan.
  • 56% perusahaan tidak tahu berapa biaya menangani sales order secara manual.
  • Pada penagihan manual, 53% perusahaan pernah mengirim invoice ke tempat yang salah dan 63% menerima invoice duplikat.
  • Digitalisasi tidak harus sekaligus: mulailah dari modul sales order, lalu lanjut ke gudang dan pengiriman.

Angka kunci dari whitepaper ini

toko yang dikelola satu distributor skala regional
1.000–15.000
Sumber: Analisis Advotics, 2020
perusahaan tidak tahu biaya penanganan sales order manual
56%
Sumber: Supply Chain Digital, 2020
rata-rata kenaikan produktivitas setelah beralih ke sistem terintegrasi (ruang +10–20%, stok +15–30%)
25%
Sumber: Essentials of Supply Chain Management, 2018
kenaikan pesanan dari kunjungan rutin ke pelanggan
hingga 30%
Sumber: Analisis Advotics
perusahaan menerima invoice duplikat; 33% di antaranya sampai membayarnya
63%
Sumber: AP Association, survei 500+ perusahaan
prioritas investasi digitalisasi sebelum vs sesudah Covid-19
22% → 30%
Sumber: Euler Hermes, 2020

Isi whitepaper

  1. Distribusi di Indonesia

    Industri FMCG tumbuh hingga 8% pada 2021 (Kantar), dengan perputaran stok cepat. Survei EY 2021 menunjukkan efisiensi (65%) dan visibilitas (61%) menjadi prioritas utama eksekutif. Tanpa visibilitas data, proses sales order, inventory, pengiriman, penagihan, dan akuntansi menjadi pos biaya operasional terbesar.

  2. I. Sales order (penjualan)

    Input sales order manual ke Excel memicu data error, proses B2B yang rumit, permintaan visibilitas dari pelanggan, dan kunjungan salesman yang sulit diverifikasi. Dengan otomatisasi, salesman menginput pesanan di lapangan, harga dan stok terlihat di sistem, diskon otomatis diterapkan, dan admin bisa memverifikasi sebelum kunjungan harian selesai.

  3. II. Inventory (stok barang)

    Stok manual menyebabkan gudang berantakan, stock-out saat permintaan tinggi, deadstock kedaluwarsa, dan pengiriman terlambat. Digitalisasi — label barcode/QR, pemindaian masuk-keluar, lokasi penyimpanan — mempercepat picking dan membuat level stok di banyak gudang terpantau.

  4. III. Pengiriman (delivery/dispatch)

    Contoh tantangannya: mengirim 1.000 pesanan dengan 30 kendaraan ke 800 lokasi per hari. Kendalanya rute tidak optimal, kapasitas dan tipe truk, jam operasional toko, dan perubahan mendadak. Sistem pengiriman menghasilkan jadwal optimal, re-routing, live tracking, dan bukti kirim lewat aplikasi kurir.

  5. IV. Penagihan (invoice collection)

    Invoice yang terlambat dibuat, pembayaran yang tidak sesuai nominal, dan rekonsiliasi manual memperlambat arus kas dan membuka celah penggelapan. Otomatisasi menarik angka dari sales order, menghitung diskon dan pajak, mengirim pengingat jatuh tempo, dan memantau status pembayaran.

  6. V. Akuntansi dan kesimpulan

    Sistem yang terintegrasi membuat laporan keuangan diperbarui setiap transaksi, sehingga tutup buku lebih cepat dan jejak audit terjaga. Transformasi digital tidak harus sekaligus — mulai dari satu proses, misalnya sales order, lalu lanjut ke modul berikutnya.

Pertanyaan seputar whitepaper ini

Proses apa saja di distributor yang bisa didigitalisasi?

Whitepaper Advotics Mengembangkan Usaha Distribusi di Indonesia membahas lima proses inti yang bisa didigitalisasi: sales order (penjualan), inventory (stok barang), pengiriman, penagihan (invoice collection), dan akuntansi.

Apa manfaat beralih dari pencatatan manual ke sistem terintegrasi?

Menurut Essentials of Supply Chain Management (2018) yang dikutip whitepaper ini, beralih dari kertas-dan-pensil ke sistem terintegrasi rata-rata meningkatkan produktivitas 25%, penggunaan ruang 10–20%, dan efisiensi penggunaan stok 15–30%.

Apakah distributor harus mendigitalisasi semua proses sekaligus?

Tidak. Whitepaper ini menyarankan implementasi bertahap, misalnya mulai dari modul sales order untuk merapikan data penjualan tim lapangan, sebelum beralih ke software gudang atau pengiriman.

Whitepaper ini dalam bahasa apa?

Dokumen PDF-nya berbahasa Indonesia (16 halaman). Ringkasan lengkapnya tersedia di halaman ini dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Ingin tahu bagaimana tantangan ini diatasi di bisnis Anda?

Diskusikan dengan tim Advotics dan lihat demo platform yang dipakai lebih dari 70 perusahaan di Indonesia.